Senin, 12 September 2011

Peluncuran buku “RISALAH RAJAH SOSROKARTONO Lukisan Profetik KH. M. Fuad Riyadi di Era Pascamodern”

Sunday, September 25 at 7:00pm - September 30 at 7:00pm

Grha Parahyangan, jl. Dayang sumbi Bandung
Peluncuran buku “RISALAH RAJAH SOSROKARTONO Lukisan Profetik KH. M. Fuad Riyadi di Era Pascamodern” karya Miekke Susanto dan pameran tunggal lukisan KH. M. Fuad Riyadi.
Bahwa pesantren tradisional mempunyai gagasan tentang mencari pemimpin yang baik yang bisa memimpin Indonesia di masa depan adalah hal yang lumrah. Namun, ketika pemikiran dan gagasan tersebut direalisasikan oleh seorang pemimpin pondok pesantren tradisional Roudlotul Fatihah, yaitu KH Muhammad Fuad Riyadi menjadi sebuah semangat kebersamaan menuju visi atau harapan yang sama merupakan sebuah kelebihan.
Lukisan dengan judul Rajah Sosrokartono karya KH M Fuad Riyadi adalah wadah untuk menuangkan ide, gagasan dan spirit dari para santri khususnya dan mudah-mudahan tertularkan kepada masyarakat luas untuk bersikap optimis bahwa bangsa Indonesia ini tidak sedang menuju kehancuran.
Pesantren tradisional mempunyai peran yang sangat strategis dalam mewacanakan ide pembaharuan Indonesia ke depan. Bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan pelaku budaya Indonesia besar harapan kiranya semangat ini mudah-mudahan ditangkap seluruh masyarakat tanpa kecuali untuk bersama-sama menggalang asa menularkan spirit kebersamaan untuk mencari pemimpin masa depan yang berakhlakul karimah.

Dibuka oleh : Direktur utama PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Orasi Budaya : Anies Baswedan PH.D (Rektor Universitas Paramadina Jakarta)
Prof.DR. Ign Bambang Sugiharrto (Guru Besar UNPAR Bandung)
Pembacaan Puisi : Acep Zamzam Noor

MANAJEMEN SANG KYAI MELUKIS
Telp Fax +62274 484 325
081 6681615 - Agus mazid Purnomo
087 839507311 - Wisnu Birowo
email : sangkyaimelukis@yahoo.com

Senin, 12 April 2010

PAMERAN TUNGGAL Karya KH M FUAD RIYADI

Dalam Rangka Hari Bumi
23 April - 29 April 2010
Jogja Nasional Museum Yogyakarta
Jalan Amri Yahya No 1 Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta.

Acara :
Opening 23 April 2010. 18.30 WIB
Oleh Bpk Bupati Bantul
Drs IDHAM SAMAWI

Kurator : Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Informasi :

MANAJEMEN SANG KYAI MELUKIS
+6227 484 325
081 6681615 - Agus mazid Purnomo
087 839507311 - Wisnu Birowo
email : sangkyaimelukis@yahoo.com


__________________________



Dzikir Putih,
Sebuah Pameran Lukisan Abstrak Karya Sang Kyai
Tatapan Agama kepada Kelestarian Lingkungan

Dzikir (Jawa: eling, dalam konteks Tuhan dan iman) sangat dianjurkan oleh agama-keimanan. Penganut yang awam melakukan dzikir diseyogyakan menurut disiplin ritual dan liturgi yang ‘standar’ agar dzikirnya itu mengena. Insan yang menganut agama-keimanan dengan tingkat iman dan ngelmu-nya telah mencapai level tinggi –tanpa tergelincir ke praktek bidah dan sesat– ia mampu berdzikir yang post-standart.

Dzikir post-standart yang dilakukan oleh insan berlevel tinggi imannya ada kalanya dirupakan dalam bentuk yang kasat mata tampak sehingga publik bisa turut menikmati. Rupa dzikir post-standart diantaranya lukisan abstrak; suatu ranah yang unik, berbasis ‘bahasa’ universal hingga mampu menembus sekat-sekat primordial bahkan lintas formalisme agama. Demikian halnya pula dzikir post-standart-nya dari Kyai Haji Muhammad Fuad Riyadi, seorang ‘ulama yang teruji memiliki otoritas ngelmu agama dan keimanannya memperlihatkan jejak-jejak pendakian tinggi spiritual, tatkala dirupakan dalam lukisan abstrak. Karyanya bukan semata lukisan abstrak an sich, lebih tepat disebut sebagai kekaryaan dzikir berikut pendaran kekuatan dari eling, peredaran pesan moral dan berestetika unik post-aesthetic (tidak terkungkung standar estetika umum).

Sementara itu, warna putih konotatif dengan berbagai hal kebajikan: suci, spirit, ‘ulama, transendental, murni, dan lain-lainnya. Warna putih juga memiliki khazanah yang berlimpah, meski pada permulaannya khazanah tadi tidak serta-merta tampak sebagaimana pada putih-nya berkas cahaya matahari. Cahaya matahari pada permulaannya hanya tampak berwarna putih sahaja, namun tatkala butiran-butiran jernih air hujan tiba maka cahaya putih ini berpendar menjadi tujuh macam warna (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu) sebagai bianglala yang penuh pesona.

Lukisan abstrak karya Kyai Haji Muhammad Fuad Riyadi merupakan tuangan dzikir post-standart yang putih (serba kebajikan), berlimpah khazanah setelah diuraikan oleh penikmatnya yang jernih bak butiran-butiran air hujan. ‘Ulama itu dimahkotai Pewaris Nabi yang mempresentasikan ajaran agama. Agama merisalahkan pelestarian bumi, melarang malpraktek terhadap bumi. Dzikir putih di kanvas upaya Sang Kyai agar umat manusia lintas-primordial melestarikan bumi. Agama adalah rahmat bagi alam semesta.

__________________________

RASIONALITAS DALAM LUKISAN KYAI FUAD

Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Demikian juga singgungan antara penulis dengan komunitas pondok pesantren Roudlotul Fatihah, terkhusus dengan pengasuh pondok Kyai Muhammad Fuad Riyadi.

Bermula dari acara reuni, sahabat lama mengimami kami sholat magrib. Terkesan dengan bacaan surat Al Lahab ayat 3 saat huruf ‘shod’ mati dibaca dengan sungguh sungguh yang kadang bagi orang awam dibaca ringan seperti ‘sin’. Menjadi bahasan semalaman dengan istri tentang sahabat lama yang dulu dalam pandangan kami para sahabatnya ‘sangat biasa’dalam memandang agama, tiba tiba muncul dengan kesungguhan yang menurut penulis luar biasa. Pasti ada guru ngaji yang hebat dibelakangnya. Akhirnya penulis dikenalkan dengan seseorang yang membawanya sampai pada keadaannya terkini, yaitu Kyai Fuad. Belakangan sahabat tersayang itu sahid saat gempa melanda Jogja [smoga Allah menerima semua amal kebaikanmu Bung Bejo]

Kemudian hari hari mulai penulis lewati dengan keterlibatan yang lumayan intens dengan denyut nadi pondok. Mulai dari kegiatan ngaji hingga bersama para santri mengupayakan memindahkan pondok dari Wonokromo ke dusun Tambalan di bawah lereng gunung Sentono tempat ngaji kami hingga sekarang. Selama itu pula penulis bersahabat dengan Kyai Fuad dan belajar banyak ilmu dari beliau.

Ada satu kalimat beliau yang selalu penulis ingat bahwa agama itu rasional, karena gustiAlloh memang maha rasional. Namun kadang karena keterbatasan pikir makhlukNya lah yang tidak segera bisa memahami kerasionalan agama dengan segera.

Termasuk ketika penulis menerima tugas menjadi bagian dari tim Manajemen Sang Kyai Melukis. Mencoba menjelaskan bahwa lukisan memiliki aura yang baik karena proses kreatif Kyai dalam melukis melibatkan zikir di dalamnya, menjadi tugas yang relatif sulit buat penulis. Ada sisi subyektif yang tumpang tindih dengan cara menilai lukisan secara umum.

Orang modern yang terbiasa dengan angka akan selalu kesulitan memahami fenomena keberagamaan. Ketika terjadi bencana mereka tidak bisa memahami kalau kejadian tersebut dihubungkan dengan pembangkangan umat terhadap hukum Alloh. Yang mengemuka di otak mereka tentu telah terjadi geseran lempeng bumi [kalau menyangkut gempa], atau tidak stabilnya tanah [kalau menyangkut longsor].

Menghubungkan peristiwa semesta dengan tabiat makhluk hidup yang bernama manusia adalah sesuatu yang tidak rasional menurut sebagian besar orang, meski alam bawah sadar mereka kadang menerima.

Dalam kasus lain, orang disadarkan dengan kebenaran ayat ketika peristiwa itu terjadi di depan mata. Tsunami yang terjadi di Aceh pasca gempa mengingatkan pada tongkat nabi Musa yang membelah laut. Begitulah kira kira gambaran tentang hanyutnya Firaun di laut yang tiba tiba surut kemudian sesaat kemudian balik menjadi gelombang besar.Alloh menyuruh Musa memukulkan tongkatnya ke laut berbarengan dengan rencana tsunami untuk Firaun.

Dalam tradisi, sering masarakat minta seorang alim mendoakan saudara atau anaknya yang sakit dengan media air. Belakangan kegiatan itu menjadi rasional ,terbukti lewat penelitian orang Jepang [Masaru Emoto dalam the true power of water], bahwa air memiliki sifat tertentu yang akan menjadi baik buat tubuh ketika doa/ kata kata baik di ucapkan, dan bisa punya dampak buruk buat tubuh ketika dicoba diucapkan kata kata yang tidak baik..

Kadang penjelasan secara rasional datangnya belakangan, meski masarakat telah menikmati bukti sejak lama.

Secara meyakinkan pula para ahli pendidikan menuding media [terutama televisi] sebagai biangnya kenakalan [sesungguhnya kerusakan moral] remaja yang makin hari makin menghawatirkan. Bagaimana mungkin kotak kaca pasif bisa dituding begitu rupa? Ternyata ada korelasi yang jelas dan akurat hubungan panca indra dengan asupan yang diterimanya secara terus menerus .

Ketika mata menerima masukan rekaman yang tidak santun, ketika telinga kurang sering mendengar alunan zikir, ketika hati jauh dari singgungan dengan orang sholeh dan seterusnya, produk tindakan yang keluar dari seseorang tentu kurang maslahat kalau tidak bisa dikatakan merusak. Panca indra kita butuh asupan yang baik yang eksposnya kemaslahatan umat. Menjadi rasional kalau kolektifitas produk masarakat yang gagal membuahkan kesholehan [karena asupan yang salah] menjadikan aura semesta menjadi sangat buruk.

Kembali ke lukisan Kyai Fuad. Paparan diatas diharapkan memberikan benang merah bagaimana melihat secara lebih mendalam dan rasional pesan dari sebuah lukisan yang menurut penikmat seni dianggap kerap menomorduakan estetika tersebut. Maka menurut hemat penulis, kedudukan lukisan yang beraura zikir ,yang dikerjakan ‘dengan hati dan hati hati’ oleh Kyai Fuad menjadi sangat strategis. Penyebaran agar lukisan dimiliki secara luas oleh masarakat menjadi penting.

M. Agus Mazid

Santri Ponpes Roudlotul Fatihah

100000000000 SM - 160 x 360 - acrylic oil on canvas.jpg

Tawaf tetumbuhan - 160 x 90 - oil on canvas.jpg

benih - 145 x 90 - oil on canvas.jpg

Akar - 160 x 90 - oil on canvas.jpg

Jamur - 160 x 90 - oil on canvas.jpg