__________________________
RASIONALITAS DALAM LUKISAN KYAI FUAD
Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Demikian juga singgungan antara penulis dengan komunitas pondok pesantren Roudlotul Fatihah, terkhusus dengan pengasuh pondok Kyai Muhammad Fuad Riyadi.
Bermula dari acara reuni, sahabat lama mengimami kami sholat magrib. Terkesan dengan bacaan surat Al Lahab ayat 3 saat huruf ‘shod’ mati dibaca dengan sungguh sungguh yang kadang bagi orang awam dibaca ringan seperti ‘sin’. Menjadi bahasan semalaman dengan istri tentang sahabat lama yang dulu dalam pandangan kami para sahabatnya ‘sangat biasa’dalam memandang agama, tiba tiba muncul dengan kesungguhan yang menurut penulis luar biasa. Pasti ada guru ngaji yang hebat dibelakangnya. Akhirnya penulis dikenalkan dengan seseorang yang membawanya sampai pada keadaannya terkini, yaitu Kyai Fuad. Belakangan sahabat tersayang itu sahid saat gempa melanda Jogja [smoga Allah menerima semua amal kebaikanmu Bung Bejo]
Kemudian hari hari mulai penulis lewati dengan keterlibatan yang lumayan intens dengan denyut nadi pondok. Mulai dari kegiatan ngaji hingga bersama para santri mengupayakan memindahkan pondok dari Wonokromo ke dusun Tambalan di bawah lereng gunung Sentono tempat ngaji kami hingga sekarang. Selama itu pula penulis bersahabat dengan Kyai Fuad dan belajar banyak ilmu dari beliau.
Ada satu kalimat beliau yang selalu penulis ingat bahwa agama itu rasional, karena gustiAlloh memang maha rasional. Namun kadang karena keterbatasan pikir makhlukNya lah yang tidak segera bisa memahami kerasionalan agama dengan segera.
Termasuk ketika penulis menerima tugas menjadi bagian dari tim Manajemen Sang Kyai Melukis. Mencoba menjelaskan bahwa lukisan memiliki aura yang baik karena proses kreatif Kyai dalam melukis melibatkan zikir di dalamnya, menjadi tugas yang relatif sulit buat penulis. Ada sisi subyektif yang tumpang tindih dengan cara menilai lukisan secara umum.
Orang modern yang terbiasa dengan angka akan selalu kesulitan memahami fenomena keberagamaan. Ketika terjadi bencana mereka tidak bisa memahami kalau kejadian tersebut dihubungkan dengan pembangkangan umat terhadap hukum Alloh. Yang mengemuka di otak mereka tentu telah terjadi geseran lempeng bumi [kalau menyangkut gempa], atau tidak stabilnya tanah [kalau menyangkut longsor].
Menghubungkan peristiwa semesta dengan tabiat makhluk hidup yang bernama manusia adalah sesuatu yang tidak rasional menurut sebagian besar orang, meski alam bawah sadar mereka kadang menerima.
Dalam kasus lain, orang disadarkan dengan kebenaran ayat ketika peristiwa itu terjadi di depan mata. Tsunami yang terjadi di Aceh pasca gempa mengingatkan pada tongkat nabi Musa yang membelah laut. Begitulah kira kira gambaran tentang hanyutnya Firaun di laut yang tiba tiba surut kemudian sesaat kemudian balik menjadi gelombang besar.Alloh menyuruh Musa memukulkan tongkatnya ke laut berbarengan dengan rencana tsunami untuk Firaun.
Dalam tradisi, sering masarakat minta seorang alim mendoakan saudara atau anaknya yang sakit dengan media air. Belakangan kegiatan itu menjadi rasional ,terbukti lewat penelitian orang Jepang [Masaru Emoto dalam the true power of water], bahwa air memiliki sifat tertentu yang akan menjadi baik buat tubuh ketika doa/ kata kata baik di ucapkan, dan bisa punya dampak buruk buat tubuh ketika dicoba diucapkan kata kata yang tidak baik..
Kadang penjelasan secara rasional datangnya belakangan, meski masarakat telah menikmati bukti sejak lama.
Secara meyakinkan pula para ahli pendidikan menuding media [terutama televisi] sebagai biangnya kenakalan [sesungguhnya kerusakan moral] remaja yang makin hari makin menghawatirkan. Bagaimana mungkin kotak kaca pasif bisa dituding begitu rupa? Ternyata ada korelasi yang jelas dan akurat hubungan panca indra dengan asupan yang diterimanya secara terus menerus .
Ketika mata menerima masukan rekaman yang tidak santun, ketika telinga kurang sering mendengar alunan zikir, ketika hati jauh dari singgungan dengan orang sholeh dan seterusnya, produk tindakan yang keluar dari seseorang tentu kurang maslahat kalau tidak bisa dikatakan merusak. Panca indra kita butuh asupan yang baik yang eksposnya kemaslahatan umat. Menjadi rasional kalau kolektifitas produk masarakat yang gagal membuahkan kesholehan [karena asupan yang salah] menjadikan aura semesta menjadi sangat buruk.
Kembali ke lukisan Kyai Fuad. Paparan diatas diharapkan memberikan benang merah bagaimana melihat secara lebih mendalam dan rasional pesan dari sebuah lukisan yang menurut penikmat seni dianggap kerap menomorduakan estetika tersebut. Maka menurut hemat penulis, kedudukan lukisan yang beraura zikir ,yang dikerjakan ‘dengan hati dan hati hati’ oleh Kyai Fuad menjadi sangat strategis. Penyebaran agar lukisan dimiliki secara luas oleh masarakat menjadi penting.
M. Agus Mazid
Santri Ponpes Roudlotul Fatihah